Bismillahirrahmanirrahim

Ya Allah, Increase My Knowledge [Quran 20:114]

Saturday, 16 November 2013

Pergi.

Sudah 3 tahun semenjak kepergiannya. Tapi Nida tetap saja tidak bisa melupakan senyuman terakhir yang diberikan oleh kekasih lamanya. Ia hanya tidak menyangka kenapa semua ini begitu cepat berlalu, tanpa kisah yang sinopsisnya pun tidak ia ketahui.
Nida sudah cukup sibuk sebenarnya dan bisa saja mudah melupakannya. Namun rasa itu muncul kembali saat ia penasaran dan memilih untuk membuka akun facebook kekasih lamanya. Ia melihat foto-foto yang diunggah oleh kekasih lamanya. Di beberapa foto, Nida melihat senyum itu lagi. Senyum yang sudah lama tidak ia lihat dan ia buat. Senyum yang dulu selalu kekasih lamanya beri untuk Nida seorang. Kini hanya melayang-layang di udara tanpa bisa pergi.

"Nida.... Liat apa?"
"Ha? Ngga liat apa-apa kok😅"

Asta -- kawan barunya di kampus. Ia yang selalu menemani Nida kemanapun dengan motor maticnya yang berwarna biru, seperti warna kesukaan Nida. Asta juga yang memberi obat-obat penyembuh rasa kegalauan Nida kepada siapapun. Tapi Asta tidak pernah mengetahui kalau ia masih menyimpan rasa yang mendalam kepada kekasih lamanya. Asta hanya tau Nida sering kali homesick dan menangis sendiri di kamar kostan.

"Homesick lagi?"
"Ngga kok, Ta. Cuma lagi liat info-info lomba kayanya seru nii. Coba deh kamu liat!"

Nida menutup laman facebooknya dan langsung membuka laman info yang memang sedari tadi dibuka tapi hanya dianggurin saja.

"Wah lomba essai nii. Ke turki pula. Ikut Da!!"
"Ah engga lah, aku masih belum bagus membuat essai hehe"
"Bagus apa ga bagusnya kan urusan belakangan, Da. Yang penting kamu coba daftar aja dulu ya!"
"Ngga ah, Ta. Aku malu kalo tulisan ku nantinya malah diketawain."
"Loh kenapa diketawain? Emang kamu tau siapa yang ketawain kamu?"
"Ngga sii...😔"
"Nah yaudah kalo gitu, kamu daftar ya"

Asta langsung membuka link essai tersebut dan mencantumkan nama Nida sebagai peserta lombanya. Tak disangka, ternyata sebelum Nida memberi tau link ini, Asta sudah mengetahuinya lebih dulu. Dan ia mau memberi tau Nida, tapi ternyata Nida sudah tau lebih dulu.

"Cuacanya bagus...."
"Iya, Ta. Bagus banget"
"Keluar yuk, kita serabian. Udah lama juga ga makan serabi, pasca UTS"
"Yuk, kamu yang traktir ya hahaha"
"Iya aku traktir. Yuk!"

Mereka pergi menuju tempat penjual serabi yang tidak hanya berjualan serabi, tapi juga pisang bakar dan roti bakar. Tempat favorite mereka karena itu juga makanan favorite mereka. Asta juga selalu mengajak Nida kesana kalau Nida sedang galau. Dan, Asta tau kalau Nida memang lagi galau. Tidak salah lagi. Ekspresi yang Nida tampilkan beda kalau Nida sedang ceria dan tidak ada masalah. Asta seakan tau mana Nida yang galau dan mana Nida yang ceria.

"Nida kenapa? Kok wajahnya mendung gitu?"
"Mendung? Emangnya aku awan?"
"Iya, kamu itu awan di hati aku. Kalau kamu menampakan awan yang berwarna putih, biru, maka hati akupun ceria. Tapiiiiii kalau kamu nampakin awan yang warna abu-abu, apalagi hitam, maka hati akupun akan jadi hitam, ga karuan. Petir disana-sini"
"Hahaha Asta gombal banget. Apaan sii, Ta. Aku cuma lagi homesick aja..."
"Homesick?"
"Iya... Homesick"
"Tapi tadi kamu bilang ga homesick. Kangen someone ya?"

Tembakan Asta seakan tepat langsung mengenai hati Nida yang paling dalam. Asta tau Nida yang bohong dan Nida yang jujur. Nida membeku, tidak bisa berkata. Asta pun begitu. Mereka berdua tampak kaku. Nida hanya mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan.  Sedangkan Asta hanya memainkan handphonenya.

"Nida.... Kenapa ga pernah cerita kalau kamu punya someone special?"

Pertanyaan yang terlontar pertama kali semenjak kejadian yang membekukan mereka itu tambah membuat Nida salah tingkah. Nida tidak ingin mengecewakan Asta yang sudah kepalang baik dengannya. Nida juga ga ingin kehilangan Asta kalau seandainya Asta tau, Nida masih menyimpan sesuatu yang mendalam yang bahkan Nida ga berani bilang itu apa.

"Asta, someone special aku itu kamu. Kamu yang bikin aku special di dunia ini. Dan aku lagi mencoba membuat kamu juga special"
...................................................................
"Di hati aku"

Ucapan Nida yang begitu spontan, membuat Asta, bahkan dirinya sendiri terkejut.

"Maksud aku, di hati bagian persahabatan dan keluarga. Iya, aku anggep Asta itu special sebagai sahabat dan sudah menjadi bagian dari keluarga Nida"
"Sekedar itu, Da?"
"Iya😊"

Tanpa ragu menjawab pertanyaan Asta. Awan mendung kini berbalik menjadi milik Asta. Asta kecewa kenapa hanya sekedar persahabatan dan keluarga. Asta sudah menyukai Nida sejak pertama mereka bertegur sapa. Ucapan Nida, suara Nida, senyum Nida, akhlak Nida, tingkah laku Nida, semuanya sangat mengesankan Asta. Mereka sudah lama bersama. Asta pun sering mengirimkan sinyal-sinyal cinta untuk Nida. Tapi sepertinya Nida tidak peka. Atau, memang Nida tidak menyukai Asta, dan Asta bukan tipe cowok idealnya.

***

Hari-hari berlalu semenjak kejadian di tempat serabi itu. Kini Nida dan Asta terkesan menjaga jarak satu sama lain. Hal terakhir yang dibicarakan Asta kepada Nida ialah,

"Aku ga ngerti kenapa kamu tiba-tiba ngomong kaya gini. Tapi sekarang aku ngerti, aku paham, aku hatam kenapa kamu daritadi galau gini. Sepertinya bukan karena aku someone special kamu. Tapi jauh disana, ada someone very special in your heart and you can't live without"
"Aku emang gapernah ngomong kalau aku suka sama kamu, tapi aku kira dengan sikap-sikap kamu selama ini, kamu baik sama aku, kamu care sama aku, kamu welcome sama aku, aku anggep kamu emang orang yang tepat buat aku dan sebaliknya. Tapi ternyata aku salah"

Nida langsung dihujani perkataan-perkataan itu. Nida bingung harus berbuat dan berkata apa, hanya air mata yang menjawab. Tapi sebelum Asta pergi setelah mengantarkan Nida tepat di depan kostnya, Nida hanya berpesan.

"Maaf selama ini kamu salah paham sama semua tingkah laku aku ke kamu. Tapi aku ga pernah nyuruh kamu buat kaya gini sama aku. Aku pikir kamu ikhlas dan emang mau nerima aku jaadi temen kamu. Tapi lantas, perkataan seperti itu saja membuat kamu kecewa dan langsung menghujamku dengan kata-kata seperti itu. Terima kasih untuk selama ini kebaikan-kebaikanmu"

Nida sadar, masa lalu seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam dan tidak lagi menggalinya kembali untuk hanya menemukan dan membuktikan bahwa hatinya memang terbawa bersama masa itu.
Masa lalu yang seharusnya tidak menjadi bumerang di masa yang sekarang.
Masa lalu yang seharusnya menjadi pengalaman dan pembelajaran, malah kembali membuat Nida kehilangan orang yang special.
Dan kejadian masa lalu yang seharusnya tidak terulang lagi, tapi Nida seperti jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Nida baru sadar saat kehilangan orang yang sudah sangat melekat di kehidupannya sehari-hari, Asta. 



Follow me on twitter