Nida sudah cukup sibuk sebenarnya dan bisa
saja mudah melupakannya. Namun rasa itu muncul kembali saat ia penasaran dan
memilih untuk membuka akun facebook kekasih lamanya. Ia melihat foto-foto yang
diunggah oleh kekasih lamanya. Di beberapa foto, Nida melihat senyum itu lagi.
Senyum yang sudah lama tidak ia lihat dan ia buat. Senyum yang dulu selalu
kekasih lamanya beri untuk Nida seorang. Kini hanya melayang-layang di udara
tanpa bisa pergi.
"Nida.... Liat apa?"
"Ha? Ngga liat apa-apa kok😅"
Asta -- kawan barunya di kampus. Ia yang
selalu menemani Nida kemanapun dengan motor maticnya yang berwarna biru,
seperti warna kesukaan Nida. Asta juga yang memberi obat-obat penyembuh rasa
kegalauan Nida kepada siapapun. Tapi Asta tidak pernah mengetahui kalau ia masih
menyimpan rasa yang mendalam kepada kekasih lamanya. Asta hanya tau Nida sering
kali homesick dan menangis sendiri di kamar kostan.
"Homesick lagi?"
"Ngga kok, Ta. Cuma lagi liat
info-info lomba kayanya seru nii. Coba deh kamu liat!"
Nida menutup laman facebooknya dan langsung
membuka laman info yang memang sedari tadi dibuka tapi hanya dianggurin saja.
"Wah lomba essai nii. Ke turki pula.
Ikut Da!!"
"Ah engga lah, aku masih belum bagus
membuat essai hehe"
"Bagus apa ga bagusnya kan urusan
belakangan, Da. Yang penting kamu coba daftar aja dulu ya!"
"Ngga ah, Ta. Aku malu kalo tulisan ku
nantinya malah diketawain."
"Loh kenapa diketawain? Emang kamu tau
siapa yang ketawain kamu?"
"Ngga sii...😔"
"Nah yaudah kalo gitu, kamu daftar
ya"
Asta langsung membuka link essai tersebut
dan mencantumkan nama Nida sebagai peserta lombanya. Tak disangka, ternyata
sebelum Nida memberi tau link ini, Asta sudah mengetahuinya lebih dulu. Dan ia
mau memberi tau Nida, tapi ternyata Nida sudah tau lebih dulu.
"Cuacanya bagus...."
"Iya, Ta. Bagus banget"
"Keluar yuk, kita serabian. Udah lama
juga ga makan serabi, pasca UTS"
"Yuk, kamu yang traktir ya
hahaha"
"Iya aku traktir. Yuk!"
Mereka pergi menuju tempat penjual serabi
yang tidak hanya berjualan serabi, tapi juga pisang bakar dan roti bakar.
Tempat favorite mereka karena itu juga makanan favorite mereka. Asta juga
selalu mengajak Nida kesana kalau Nida sedang galau. Dan, Asta tau kalau Nida
memang lagi galau. Tidak salah lagi. Ekspresi yang Nida tampilkan beda kalau
Nida sedang ceria dan tidak ada masalah. Asta seakan tau mana Nida yang galau
dan mana Nida yang ceria.
"Nida kenapa? Kok wajahnya mendung
gitu?"
"Mendung? Emangnya aku awan?"
"Iya, kamu itu awan di hati aku. Kalau
kamu menampakan awan yang berwarna putih, biru, maka hati akupun ceria.
Tapiiiiii kalau kamu nampakin awan yang warna abu-abu, apalagi hitam, maka hati
akupun akan jadi hitam, ga karuan. Petir disana-sini"
"Hahaha Asta gombal banget. Apaan sii,
Ta. Aku cuma lagi homesick aja..."
"Homesick?"
"Iya... Homesick"
"Tapi tadi kamu bilang ga homesick.
Kangen someone ya?"
Tembakan Asta seakan tepat langsung
mengenai hati Nida yang paling dalam. Asta tau Nida yang bohong dan Nida yang
jujur. Nida membeku, tidak bisa berkata. Asta pun begitu. Mereka berdua tampak
kaku. Nida hanya mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan. Sedangkan
Asta hanya memainkan handphonenya.
"Nida.... Kenapa ga pernah cerita
kalau kamu punya someone special?"
Pertanyaan yang terlontar pertama kali
semenjak kejadian yang membekukan mereka itu tambah membuat Nida salah tingkah.
Nida tidak ingin mengecewakan Asta yang sudah kepalang baik dengannya. Nida
juga ga ingin kehilangan Asta kalau seandainya Asta tau, Nida masih menyimpan
sesuatu yang mendalam yang bahkan Nida ga berani bilang itu apa.
"Asta, someone special aku itu kamu.
Kamu yang bikin aku special di dunia ini. Dan aku lagi mencoba membuat kamu
juga special"
...................................................................
"Di hati aku"
Ucapan Nida yang begitu spontan, membuat
Asta, bahkan dirinya sendiri terkejut.
"Maksud aku, di hati bagian
persahabatan dan keluarga. Iya, aku anggep Asta itu special sebagai sahabat dan
sudah menjadi bagian dari keluarga Nida"
"Sekedar itu, Da?"
"Iya😊"
Tanpa ragu menjawab pertanyaan Asta. Awan
mendung kini berbalik menjadi milik Asta. Asta kecewa kenapa hanya sekedar
persahabatan dan keluarga. Asta sudah menyukai Nida sejak pertama mereka
bertegur sapa. Ucapan Nida, suara Nida, senyum Nida, akhlak Nida, tingkah laku
Nida, semuanya sangat mengesankan Asta. Mereka sudah lama bersama. Asta pun
sering mengirimkan sinyal-sinyal cinta untuk Nida. Tapi sepertinya Nida tidak
peka. Atau, memang Nida tidak menyukai Asta, dan Asta bukan tipe cowok
idealnya.
***
Hari-hari berlalu semenjak kejadian di
tempat serabi itu. Kini Nida dan Asta terkesan menjaga jarak satu sama lain.
Hal terakhir yang dibicarakan Asta kepada Nida ialah,
"Aku ga ngerti kenapa kamu tiba-tiba
ngomong kaya gini. Tapi sekarang aku ngerti, aku paham, aku hatam kenapa kamu
daritadi galau gini. Sepertinya bukan karena aku someone special kamu. Tapi
jauh disana, ada someone very special in your heart and you can't live
without"
"Aku emang gapernah ngomong kalau aku
suka sama kamu, tapi aku kira dengan sikap-sikap kamu selama ini, kamu baik
sama aku, kamu care sama aku, kamu welcome sama aku, aku anggep kamu emang
orang yang tepat buat aku dan sebaliknya. Tapi ternyata aku salah"
Nida langsung dihujani perkataan-perkataan
itu. Nida bingung harus berbuat dan berkata apa, hanya air mata yang menjawab.
Tapi sebelum Asta pergi setelah mengantarkan Nida tepat di depan kostnya, Nida
hanya berpesan.
"Maaf selama ini kamu salah paham sama
semua tingkah laku aku ke kamu. Tapi aku ga pernah nyuruh kamu buat kaya gini
sama aku. Aku pikir kamu ikhlas dan emang mau nerima aku jaadi temen kamu. Tapi
lantas, perkataan seperti itu saja membuat kamu kecewa dan langsung menghujamku
dengan kata-kata seperti itu. Terima kasih untuk selama ini kebaikan-kebaikanmu"
Nida sadar, masa lalu seharusnya sudah ia
kubur dalam-dalam dan tidak lagi menggalinya kembali untuk hanya menemukan dan
membuktikan bahwa hatinya memang terbawa bersama masa itu.
Masa lalu yang seharusnya tidak menjadi
bumerang di masa yang sekarang.
Masa lalu yang seharusnya menjadi
pengalaman dan pembelajaran, malah kembali membuat Nida kehilangan orang yang
special.
Dan kejadian masa lalu yang seharusnya
tidak terulang lagi, tapi Nida seperti jatuh di lubang yang sama untuk kedua
kalinya. Nida baru sadar saat kehilangan orang yang sudah sangat melekat di
kehidupannya sehari-hari, Asta.
Follow me on twitter